Ibu Melakukan Kekerasan pada Anak

Ibu Melakukan Kekerasan pada Anak

”Pada dasarnya saya tidak mau menikah. Saya ingin bebas. Namun, saat orangtua memaksa saya menerima pinangan dari pemuda yang tadinya menginginkan kakak saya, saya tidak kuasa menolak.

Hari-hari persiapan perkawinan dan saat perkawinan, perasaan saya gundah dan tidak enak. Setelah satu tahun perkawinan, anak pertama saya lahir, laki-laki sekarang berusia 2 tahun 5 bulan. Tiba-tiba saya sering benci melihat anak itu dan saya pukuli. Bahkan, kalau ia rewel dan tidak menuruti kemauan saya, saya tidak kuasa menahan keinginan untuk lari dari rumah.

Pada suatu hari, ketika suami saya di kantor, saya pukuli anak itu dan saya kabur dari rumah. Saya meninggalkan anak itu sendiri di rumah. Namun, dalam perjalanan menuju stasiun bus yang bisa membawa saya pulang ke rumah orangtua, saya sadar dan timbul rasa kasihan kepada anak sehingga saya kembali ke rumah. Melihat anak itu sedang menangis sendirian, saya merasa kasihan dan memeluknya, serta menyadari kesalahan saya.

Saya menyesali tindakan saya, tetapi sering tidak kuasa untuk mengendalikan keinginan memukuli anak itu. Ibu, saya tidak bisa seperti ini terus. Kasihan anak saya. Saya merasa tidak cukup punya cinta kepada anak dan suami. Saya ingin cerai, Bu.  K (28 tahun)

“Dinamika intrapsikis”

Dinamika intrapsikis adalah suatu kondisi psikologis dalam (depth psychology) yang bergejolak dalam diri seseorang. Kondisi itu dan menjadi sumber penyebab munculnya perilaku yang tidak diinginkan orang itu sendiri. Apakah gerangan yang menyebabkan ibu kandung sekejam itu, sementara suaminya adalah seorang suami yang mencintainya, baik, dan sabar?

Masalahnya, dinamika intrapsikis ini tidak disadari oleh yang bersangkutan dan berawal, antara lain, dari pola asuh masa lalunya. K adalah anak bungsu dari empat bersaudara kandung yang perempuan semua. Ayahnya adalah seorang guru di kampungnya dan dikenal sebagai tokoh yang baik pekertinya.

Rupanya tersirat keinginan untuk mendidik anak-anak perempuannya dengan baik sehingga sikap terhadap anaknya amat keras. Bila menasihati anaknya, ia bisa berlama-lama. Selama dia memberi nasihat, anak harus tinggal diam di hadapannya tanpa boleh membantah.

Bila harus menghadapi nasihat ayah seperti itu, K akan terdiam, tetapi sangat marah. K memendam kata-kata ingin melawan ayah, tetapi tidak berani melontarkannya. Hubungan K dengan ayah dirasa K memang sangat buruk, bahkan bila mendengar suara motor ayah masuk halaman dia sudah berdebar-debar ketakutan.

Walaupun kemudian dia berpikir, ”Kenapa harus deg-degan?” Pernah K berbuat kesalahan kecil, tetapi dikejar oleh ayahnya untuk mendapat hukuman. K bersembunyi di atas tempat tidur tingkat. Ayahnya tidak naik ke tempat tidur, tetapi K dilempari dengan sepatu hak tinggi milik kakaknya. K disuruh turun dari tempat tidur. Sekitar dua jam ia dimarahi dan dinasihati berulang kali dengan kata-kata yang sama.

Ibunya pun tidak pandai menghargai diri sendiri dan kadang tidak berbuat tepat dalam keadaan tertentu serta berdaya menghadapi sikap ayah yang otoriter tersebut. K merasa rasa kasih dan cinta tidak pernah dirasakannya. K lebih sering tampil terdiam, terkesan seperti anak manis. Padahal, dalam hati ia merasa gejolak amarah dan benci begitu intensnya. K menjadi terbiasa dengan sikap tersebut.

Rasa bersalah

Dari hasil pemeriksaan psikologi, muncul gejala rasa bersalah yang sangat mendalam terutama bila K menerima sikap baik dan penuh kasih dari suami. Pengalaman relasi dengan ayah yang sangat buruk tersebut membuat K mengalami hambatan dalam perkembangan relasi sosial dengan lawan jenis. Selama pemeriksaan psikologi, muncul ungkapan rasa benci terhadap ayah dan rasa salah yang besar terhadap diri sendiri seperti:

”Saya ingin ayah saya menyadari bahwa dia salah dan dia bukan orang yang bijaksana.”

”Ayahku menyebalkan.”

”Kalau saya mengalami nasib malang, itu karena andil ayah saya.”

”Ayah palsu, di luar rumah dikenal baik, tetapi sesungguhnya dengan keluarga sendiri

sangat kejam.”

”Kesalahan yang terbesar adalah menikah.”

”Hal terburuk yang pernah saya lakukan adalah saya menikah. Saya tidak berhasil mencintai suami dan anak saya.”

Sulit bagi K meraih kenyamanan kasih yang diberikan oleh suaminya. Oleh karena itu, K merasa gagal dan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan kasih dan cinta kepada suami, bahkan kepada anak laki-lakinya sendiri.

Situasi ini membuat K merasa marah dan benci kepada diri sendiri dan memunculkan rasa salah yang tiada terkira sehingga muncul keinginan untuk melarikan diri, bercerai, dan meninggalkan suami dan anaknya. Namun, suami tidak pernah menyetujui usul cerai K dan bahkan berupaya untuk lebih menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.

Rasa salah dan kemarahan kepada diri sendiri tersebut semakin besar dan sering memicu tindak kekerasan yang tidak terkendali terhadap anaknya.

Solusi: K seyogianya memperoleh psikoterapi dengan pendekatan psikoanalitik.

Sawitri Supardi Sadarjoen Psikolog….

—————————–

Note: Cerita ini nyata dan sangat bagus dibaca oleh para orang tua khususnya Ibu…

terkadang kita ingin yang terbaik untuk anak kita, namun terlepas dari itu semua kita harus selalu tau dan tidak menutup mata terhadap keinginan anak-anak kita…..