Mengapa Takut Mati?

Maraṇa dhammomhi, maraṇaṁ anatīto
Aku wajar mengalami kematian,
aku takkan mampu menghindari kematian.

Buddha bersabda: ”Kehidupan tidak pasti, namun kematian itu pasti”. Setelah menyadari dengan jelas bahwa kematian pasti akan datang dan merupakan akhir dari suatu kehidupan, serta harus dihadapi oleh setiap makhluk, maka sebenarnya kita tidak perlu takut akan kematian, namun pada kenyataannya masih banyak di antara kita yang merasa takut untuk menghadapinya. Karena itu kita tidak ingin mengingat-ingat bahwa kematian ini tak terelakkan dan kita ingin terus melekat pada kehidupan tercinta ini. Sekali kehidupan dimulai, maka akan terus berlangsung seperti peluru yang meluncur menuju sasarannya, yaitu kematian. Setelah menyadari hal ini, kita harus berani berhadapan muka dengan kefanaan kita sendiri dan apabila kita ingin dipandang sebagai manusia yang bebas dalam kehidupan, maka kita harus bebas dari rasa takut terhadap kematian. Kita telah mengetahui bahwa ilmu pengetahuan mengajarkan tentang proses kematian, yakni bahwa kematian hanya merupakan suatu proses pelapukan fisik dari tubuh manusia, karena itu kita tidak perlu membohongi diri sendiri dengan bayang-bayang atau khayalan-khayalan menyeramkan yang pernah terwujud.

Pada suatu ketika Brahmana Janussoni mendekati Sang Buddha dan menyapa Beliau demikian: ”Tuan Gotama, saya mempertahankan dan memegang pandangan bahwa tidak ada orang yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.” ”Brahmana, memang ada orang yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian, tetapi juga ada orang yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian. Dan siapakah orang yang takut akan kematian dan siapakah yang tidak takut akan kematian?

Ada empat hal yang menyebabkan orang takut akan kematian:
1. Orang yang tidak bebas dari nafsu kesenangan indera, tidak bebas dari nafsu dan cinta terhadap kesenangan-kesenangan indera, tidak bebas dari kehausan dan kerinduan mengejarnya, tidak bebas dari nafsu keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indera. Orang inilah yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

2. Orang yang tidak bebas dari nafsu terhadap tubuh ini, tidak bebas dari nafsu dan cinta terhadap tubuh ini, tidak bebas dari kehausan dan kerinduan terhadapnya, tidak bebas dari nafsu keinginan terhadap tubuh. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

3. Orang yang belum melakukan apa pun yang bajik dan bermanfaat, yang belum membuat perlindungan bagi dirinya sendiri; tetapi dia telah melakukan apa yang jahat, kejam dan buruk. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

4. Orang yang memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma yang baik dan belum sampai pada kepastian di dalamnya. Orang inilah juga yang takut akan kematian, yang gentar akan kematian.

Ada empat hal yang menyebabkan orang tidak takut akan kematian:
1. Orang yang bebas dari nafsu terhadap kesenangan indera, bebas dari nafsu dan cinta terhadapnya, bebas dari kehausan dan kerinduan mengejarnya, bebas dari nafsu keinginan terhadap kesenangan-kesenangan indera. Orang inilah yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

2. Orang yang bebas dari nafsu terhadap tubuh ini, bebas dari nafsu dan cinta terhadap tubuh ini, bebas dari kehausan dan kerinduan mengejar tubuh ini, bebas dari nafsu keinginan terhadap tubuh ini. Orang inilah juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

3. Orang yang tidak melakukan apa pun yang jahat, kejam atau buruk, tetapi telah melakukan apa yang bajik dan bermanfaat, yang telah membuat perlindungan bagi dirinya sendiri. Orang inilah juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

4. Orang yang tidak memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma yang baik dan telah memperoleh kepastian di dalamnya. Orang inilah juga yang tidak takut akan kematian, yang tidak gentar akan kematian.

Sehubungan dengan tempat yang dituju setelah kematian, maka ada empat kelompok orang, yaitu:
1. Orang yang dari gelap menuju gelap,
2. Orang yang dari gelap menuju terang,
3. Orang yang dari terang menuju gelap,
4. Orang yang dari terang menuju terang.

1. Apakah yang dimaksud dengan orang yang dari gelap menuju gelap?
Di sini seseorang telah terlahir kembali di keluarga yang rendah dan miskin, keluarga yang sulit memperoleh makanan dan pakaian. Dan dia buruk rupa atau cacat. Dia terlibat dalam perilaku yang salah lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Sesudah melakukan demikian, ketika tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir lagi di alam menderita, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka.

2. Apakah yang dimaksud dengan orang yang dari gelap menuju terang? Di sini seseorang telah terlahir kembali di keluarga yang rendah dan miskin, keluarga yang sulit memperoleh makanan dan pakaian. Dan dia buruk rupa atau cacat. Dia terlibat dalam perilaku yang baik lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Sesudah melakukan demikian, ketika tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir lagi di alam tujuan yang baik, di alam surgawi.

3. Apakah yang dimaksud dengan orang yang dari terang menuju gelap?
Di sini seseorang telah terlahir kembali di keluarga yang tinggi dengan kekayaan dan hasil yang melimpah. Dia berparas elok, menarik, anggun, memiliki kulit yang indah. Dia terlibat dalam perilaku yang salah lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Setelah melakukan demikian, ketika tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir lagi di alam menderita, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka.

4. Apakah yang dimaksud dengan orang yang dari terang menuju terang?
Di sini seseorang telah terlahir kembali di keluarga yang tinggi dengan kekayaan dan hasil yang melimpah. Dia berparas elok, menarik, anggun, memiliki kulit yang indah. Dia terlibat dalam perilaku yang baik lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Setelah melakukan demikian, ketika tubuhnya hancur setelah kematian, dia terlahir lagi di alam tujuan yang baik, di alam surgawi.

__________________